Isnanisha Karlina Suka piknik sambil makan-makan.

Melihat Kehidupan Suku Osing Banyuwangi Yang Masih Lestari

4 min read

Melihat Kehidupan Suku Osing Banyuwangi Yang Masih Lestari 1

Suku Osing Banyuwangi merupakan suku asli Banyuwangi yang masih memegang teguh adat dan budayanya sampai saat ini.

Banyuwangi adalah kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Selain memiliki destinasi wisata yang indah, Banyuwangi juga masih memiliki penduduk asli yang memiliki adat dan budaya yang masih kental.

Jika kamu berlibur ke Banyuwangi jangan lupa mampir ke Desa Kemiren, karena disana kamu akan menjumpai Suku Osing Banyuwangi

Sekilas Suku Osing Banyuwangi

Suku Osing Banyuwangi adalah penduduk asli Banyuwangi. Mereka menempati beberapa kecamatan yang ada di Banyuwangi seperti Kecamatan Rogojampi, Kemiren, Sempu, Gelagah, dan masih banyak lainya.

Suku ini juga memiliki budaya dan adat yang kental dan sampai saat ini pun masih dipertahankan. Keseharianya suku ini sebagain besar adalah bertani dan berkebun. Dahulunya suku ini menganut agama Hindhu seperti pada jaman Kerajaan Majapahit. Namun seiring penyebaran agama Islam masuk di , tidak sedikit yang memeluk agama Islam.

Sejarah Dan Asal Usul Nama

Suku Osing atau orang Osing adalah penduduk asli Banyuwangi yang dikenal juga sebagai Laros, akronim dari Lare Osing atau Wong Blambangan. Osing sendiri memiliki makna “tidak”. Julukan osing pun tidak serta merta keinginan dari masyarakat Blambangan, namun lebih menjadi ungkapan frustasi orang Belanda karean gagal membujuk masyarakat Blambangan untuk bekerja sama.

Karena masyarakat Blambangan pada masa itu cenderung menarik diri dari dari orang – orang baru dan lebih memilih mengasingkan diri mereka. Namun mengikuti perkembangan jaman, sikap itu pun mulai luntur dan mulai bisa menerima perubahan jaman.

Awalnya adalah saat runtuhnya Kerajaan Majaphit saat terjadi perang saudara sekitar pada tahun 1478 masehi, serta tumbuhnya kerajaan – kerajaan islam. Kerajaan tersebut terutama Kerajaan Malaka yang mempercepat runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Setelah mengalami keruntuhan, masyarakat Majapahit pergi untuk menyelamatkan diri dan memulai kehidupan baru. Mereka menyebar ke berbagai wilayah seperti di Lereng Gunung Bromo yang sekarang dikenal sebagai Suku Tengger, Blambangan yang dikenal sebagai Suku Osing dan Bali.

Setelah itu orang – orang yang mengungsi ke Blambangan mendirikan Kerajaan Blambangan yang menjadi kerajaan yang bercorak Hindhu – Buddha terakhir. Kedekatan sejarah ini terlihat dari budaya Suku Osing yang mendirikan kerajaan dengan corak Kerjaan Majapahit.

Masyarakat yang dikenal sebagai Suku Osing ini pun percaya bahwa Alas Purwo atau yang lebih dikenal sebagai Taman Nasional Alas Purwo ini menjadi tempat persembunyian rakyat Majapahit dari kejaran Kerajaan Mataram.

Kerajaan Mataram Islam dalam sejarahnya tidak pernah memperluas kekuasaanya sampai menancapkan kekuasaanya di Kerjaan Blambanagan. Karena faktor inilah yang menyebabkan masyarakat osing memiliki kebudayan yang berbeda dengan Suku Jawa, bahkan masyarakat Osing lebih cenderung memiliki kesamaan dengan Suku Bali. Hal tersebut terlihat dari kesamaan struktur bangunan dengan rumah adat di Bali.

Bahasa

Suku Osing memiliki bahasanya sendiri, yaitu Bahasa Osing. Bahasa ini pun lebih seperti dialek Jawa Kuno dan berbeda dengan dialek Bahasa Jawa pada umumnya. Seperti penggunaan Paran (apa) isun (saya) dan masih banyak lainya.

Kekerabatan Suku Osing

Prinsip kekerabatan yang utama adalah kekeluargaan. Namun dalam kehidupan sosial nampak memiliki lapisan atau strata.

Mata pecaharian

Sebagian besar masyarakat Osing memiliki mata pencaharian bertani dan berkebun, dan sebagian kecil sebagai pegawai negeri sipil, pedagang, dan lain sebainya.

Kepercayaan

Dahulunya suku Osing memiliki kepercayaan yang sama denga orang Majapahit, yaitu menganut kepercayaan Hindhu – Budha. Namun seiring cepatnya perkembangan kerajaan islam yang menyebar, menyebabkan cepatnya penyebaran islam dikalangan suku Osing yang menerimanya. Walaupun demikian tidak sedikit masyarakat Osing yang masih memegang teguh kepercayaan yang diajarkan oleh nenek moyang mereka.

Rumah Adat

Rumah adat suku Osing berada di desa Kemiren. Rumah adat ini memiliki keunikanya yaitu rumah adat ini tidak boleh dibangun menghadap ke arah gunung, dan harus menghadap ke arah jalan.

Ciri khas rumah adat dari suku ini adalah atap yang memiliki tiga bentuk yang berbeda. Atap tersebut dinamakan dengan Tikel Balung, Csrocogan dan Baresan. Tikel Balung merupakan dasar atau pondasi bangunan yang terdiri dari empat rab ( bidang) atap.

Atap model Tikel Balungan ini biasanya bisa ditemukan pada rumah setiap warga.
Baresan merupakan banguan yang lebih sederhana dari Tikel Balung, yaitu hanya memiliki tiga rab, namun Baseran tidak bisa berdiri sebagai unit, biasanya Baseran dibangun untuk menambah ruang jika ruang utama tidak mencukupi atau anggota keluarga bertambah.

Sementara Cerocogan adalah tipe bangunan yang paling sederhana dari kedua bangunan sebelumnya. Cerocogan bukanlah bangunan inti, biasanya Cerocogan digunakan sebagai bangunan dapur, atau bangunan tambahan yang dirasa kurang menaungi bagian rumah.

Tradisi

Seperti suku suku lainya yang tersebar diseluruh Indoneisa, suku Osing juga memiliki tradisi unik yang masih dijaga kelestarianya sampai saat ini.

Bahasa Osing

Keseharian masyarakat ini menggunakan bahasa Osing. Mengingat jaman sekarang banyak anaka muda yang tidak bisa bahkan tidak tahu bahasa adat mereka. Selain itu mereka juga memiliki lagu adat sendiri dan menggunakan Bahasa Osing tentunya.

Tradisi Gedhogan

Tradisi Gedhgan merupakan perkumpulan ibu – ibu yang menumbuk hasil bumi seperti tepung dan beras. Dengan begitu tumbukan dari alat penumbuk menghasilkan suara yang memiliki tempo teratur. Dan mejadikan nada yang bagus.

Memang alat tumbuk ini sudah sangat jarang digunakan, namun masih dilestarikan dan menjadi tontonan untuk wisatawan atau turis-turis yang datang.

Barong Ider Bumi

Tradisi ini bertujuan untuk menolak balak yang datang ke wilayah ini. Sebagian waraga membentuk group barongan yang berkeliling dari timur ke barat layaknya arak – arakn karnaval. Tradisi ini di lakukan setiap satu tahun sekali, yautu setiap tanggal dua bulan syawal.

Uniknya di tengah arak-arakan banyak warga yang melempari uang koin yang bertujuan tolak balak yang datang ke wilayah mereka. Namun biarpun uang koin biasanya bisa terkumpul sampai 15 juta, bahkan lebih.

Tradisi Bersih Desa

Tradisi bersih desa ini dilakukan setelah meraka berhasil panen hasil pertanian sebagai wujud rasa sukur mereka. Dalam tradisi ini masyarakat menyuguhkan makakanan khas Banyuwangi yaitu Pecel Pitik. Makanan yang berisi suwiran daging ayam dan sayuran diurap menggunakan kelapa parut.

Mepe Kasur

Tradisi mepe kasur atau jemur kasur sudah menjadi tradisi untuk masyarakat Osing. Biasanya mepe kasur dilakukan banyak orang jika kasur dalam keadaan basah. Namun tidak bagi masyarakat Osing. Tradisi unik ini biasanya dilaksanakan setiap bulan Dzulhijjah dan dilakukan bersamaan dengan acara selamatan desa.

Masyarakat akan bersamaan menjemur kasur mereka karena mereka percaya tradisi ini bisa menjaga kerukunan dan keharmonisan keluarga. Uniknya lagi setiap kasur di desa ini memiliki warna yang sama yaitu merah dan hitam. Warna ini melambangkan tolak bala dan kelanggengan kehidupan berkeluarga.

Memainkan Angklung Paglak

Memainkan Angklung Paglak dilakukan saat musim panen tiba, tujuanya untuk menghibur para petani yang sedang memanen hasil bumi mereka. Sekaligus memanggil orang orang agar membantu para petani panen. Tradisi ini menjunjung tinggi nilai gotong royong.

Alamat

Kamu bisa mengujungi Desa Wisata Osing yang terletak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk desa Osing ini cukup terjangkau, hanya dengan membayar sebesar Rp 5.000,- saja kamu bisa menikmati wisata di Desa Osing.

Fasilitas

Berbeda halnya seperti tempat wisata lain. Tempat wisata ini tidak hanya memiliki fasilitas seperti, toilet, dan tempat perkir, namun disini memiliki fasilitas berbagai macam anjungan yang bisa kamu kunjungi, seperti sanggar tari yang biasaya menyajikan tari daerah yang bisa dinikmati para wisatawan.

Selain itu desa ini juga memiliki fasilitas penginapan yang bisa kamu sewa. Untuk menyewa penginapan ini pun cukup membayar sebesar Rp 165.000,-/ malam. Penginapan ini berisi 2 orang. Penginapan inipun memiliki desain rumah adat, jadi kamu bisa merasakan sensasi menginap dirumah adat suku Osing.

QnA

Berikut adalah pertanyaan yang berkaitan dengam kehidupan suku asli Banyuwangi ini:

Bagaiman konsep wisata ini ?

Untuk konsep wisata ini adalah desa wisata adat.

Kalau mau berkunjung disana apakah harus ijin dulu ?

Tidak perlu ijin,tapi bayar tiket masuk.

Harga penginapan permalam di situ berapa ya ?

Rp 200.000,00 kalau di area wisata.

Apakah bisa menjadi tempat penelitian ?

Bisa, tentang budaya,adat, kuliner, periwisata, kesenian, apa aja yang mau kamu teliti.

Apa nama desanya ?

Desa Kemiren.

Kesimpulan

Tempat wisata yang berbeda denga tempat wisata lainya adalah Desa Kemiren. Di desa ini kamu bisa melihat kehidupan sehari-hari Suku Osing Banyuwangi yang masih dilestarikan.

Isnanisha Karlina Suka piknik sambil makan-makan.
error: Disable